Gubernur Ganjar Dicurhati Pelajar Soal Belajar di Rumah Tak Efektif

Demak – Perwakilan forum anak Jepara bersama anggota forum anak se-Jawa Tengah melakukan video call bertajuk ngobrol berjarak dengan Gubernur Jawa Tengah, Rabu (15/4) kemarin. Pada kesempatan itu, mereka curhat mengenai pelaksanaan kegiatan belajar mengajar di rumah yang memiliki banyak kekurangan dan dinilai tidak efektif.

Perwakilan forum anak Jepara yang ikut serta dalam ngobrol berjarak itu Intan Azzahra mengatakan, sejak melaksanakan belajar di rumah pada 16 Maret hingga kemarin dia merasakan banyak hal yang kurang efektif. Sebab ada guru yang tidak memberi materi tetapi langsung memberikan tugas. Setelah tugas dikerjakan pun tidak ada evaluasi. Tidak hanya itu beberapa guru juga kadang tidak sesuai jadwal saat pembelajaran di sekolah. “Ini yang kami sampaikan kepada Bapak Gubernur mengenai proses KBM di rumah,” ujarnya.

Mereka mengaku leluasa menyampaikan apa yang mereka rasakan lantaran orang nomor satu di Jawa Tengah tersebut bertanya secara langsung. “Jadi sebelumnya Bapak Gubernur memberikan arahan terkait Covid-19, setelah itu bertanya pada kami apa yang kami rasakan selama di rumah saja,” urainya.

Tak hanya curhat saat diminta untuk memberikan solusi agar pembelajaran di rumah lebih efektif, forum anak Jepara mengusulkan agar pembelajaran dibuat lebih menarik hal ini supaya siswa lebih antusias dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar di rumah. “Misalnya melalui game tapi itu kayak berisi soal-soal,” katanya.

Selain beberapa poin yang disampaikan pada ngobrol berjarak itu Intan menyatakan ada berbagai persoalan lain yang juga dihadapi oleh anak-anak di bawah forum anak Jawa Tengah. Mulai dari banyak tugas yang diberikan dengan deadline singkat, tidak ada penjelasan dan nilai dari soal-soal yang telah diberikan guru, metode pembelajaran yang dilakukan kurang menarik, beberapa guru menggunakan video dalam pembelajaran seperti halnya bimbingan belajar dan kurangnya pemberian pemahaman terkait Covid-19 padahal ada tugas terkait hal tersebut.

Intan juga mengaku ada sebagian siswa yang masih sulit mengikuti pembelajaran lantaran memiliki tempat tinggal dengan akses internet terbatas. “Pembelajaran juga membutuhkan kuota yang cukup banyak selama sebulan terakhir dilaksanakan belajar dirumah saja yakni 16 Maret hingga 16 April ini,” jelasnya.

Intan menambahkan para pelajar berharap, lebih banyak guru yang memanfaatkan aplikasi tatap muka dalam pembelajaran, memberikan modul serta membuka ruang diskusi. “Supaya pembelajaran tetap efektif dan tidak terjadi miss komunikasi,” pungkasnya. (sumber : Radar Kudus).

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial