
Demak – Senin (20/04/2020). Masih banyak yang belum diketahui peneliti tentang novel coronavirus yang berasal dari Tiongkok. Di hari-hari awal infeksi, novel coronavirus dengan cepat menyerang sel paru-paru manusia. Pada saat itulah, pasien memasuki fase kedua dan sistem kekebalan tubuh mulai melawan. “Jadi, Anda mendapat lebih banyak kerusakan dibanding respons imun,” kata Frieman. Saat ada lebih banyak puing yang menyumbat paru-paru, pneumonia pun semakin memburuk.
Ketika virus apa pun masuk ke dalam tubuh, ia mencari sel manusia dengan pintu favoritnya—protein di luar sel yang disebut reseptor. Jika virus menemukan reseptor yang cocok pada sebuah sel, ia akan menginfeksinya. Studi pada 2014 menunjukkan bahwa 92 pasien MERS setidaknya memiliki satu manifestasi coronavirus di luar paru-paru. Yaitu, peningkatan enzim hati, serta sel darah putih, jumlah trombosit dan tekanan darah rendah. Badai sitokin menciptakan peradangan yang melemahkan pembuluh darah di paru-paru dan menyebabkan cairan meresap ke kantung udara. Badai ini “membanjiri” sistem peredaran darah dan akhirnya menciptakan masalah sistemik di banyak organ. Seringnya ringan, meski ada beberapa kasus parah yang menyebabkan kerusakan dan kegagalan hati.
Seperti hati, ginjal Anda berperan sebagai penyaring darah. Setiap ginjal diisi dengan sekitar 800 ribu unit penyulingan mikroskopis yang disebut nefron. Karena ginjal Anda secara terus menerus menyaring darah, kadang sel tubular dapat menjeak virus dan menyebabkan cedera sementara atau ringan. Cedera itu bisa jadi mematikan jika virus menembus sel dan mulai bereplikasi. (sumber : Times Indonesia).




