
Jakarta, CNN Indonesia — Istilah tatanan normal baru atau new normal, seliweran di tengah pandemi virus corona yang masih terus mencatatkan penambahan kasus setiap harinya. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sudah sempat memperingatkan bahwa virus penyebab Covid-19 ini mungkin tak akan pernah pergi.
Karena itu Direktur Eksekutif Program Kedaruratan WHO Mike Ryan dalam konferensi pers rutin pada pertengahan Mei lalu meminta setiap negara tetap waspada seraya menyiapkan penyesuaian atau, dengan kata lain tatananĀ new normal. Ahli kesehatan masyarakat Hermawan Saputra menjelaskan, normal baru ini merupakan perilaku atau budaya baru yang muncul semenjak adanya virus corona. Beberapa perilaku yang ketika sebelum pandemi menjadi hal yang tak lazim maka kini berangsur jadi hal yang biasa–menjadi normal yang baru.
“Kalau dulu kita terlihat aneh melihat orang memakai masker di jalanan, sekarang jadi terbiasa. Dulu kok, kita merasa aneh orang menjaga jarak, sekarang jadi terbiasa,” kata Hermawan yang juga anggota Dewan Pakar Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) kepada CNNIndonesia.com melalui sambungan telepon.
“Dulu orang terbiasa melihat salaman atau cipika-cipiki saat ketemu di jalan, sekarang malah jadi aneh karena suasana Covid-19,” sambung dia lagi.
Tapi tatanan new normal yang disebut di atas tadi adalah yang berkaitan dengan individu atau hubungan di komunitas. Sedangkan jika menurut Ahli Epidemiologi dari Griffith University Australia, Dicky Budiman, new normal tak hanya soal kebiasaan baru individu. Kata dia, new normal terbagi menjadi dua tingkatan yakni untuk individu atau komunitas dan new normal di tataran institusi.
Yang disebut terakhir itu–new normal di tataran institusi–adalah yang pelaksanaannya perlu didahului dengan mempersiapkan sejumlah fase. Termasuk di antaranya memastikan prasyarat yang telah ditetapkan oleh WHO seperti kemampuan mengendalikan transmisi penularan virus corona dan kapasitas sistem kesehatan yang mamadai.




