Bahaya, Masak Ketupat atau Lontong dengan Bungkus Plastik

JAKARTA, AYOSEMARANG.COM — Menyantap opor ayam tak lengkap rasanya jika tak memakai ketupat atau lontong. Ketupat dan lontong biasanya dibuat dengan menggunakan daun kelapa dan duan pisang.  Kekinian sejumlah penjual menggunakan plastik untuk membungkus lontong atau ketupat. Namun, amankah membungkus lontong dan ketupat dengan bungkus plastik? Ahli gizi, Leona Victoria Djajadi MND mengatakan, memasak lontong menggunakan nasi sejatinya tidak akan mengurangi nilai gizi. Meski begitu, faktor keamanan makanan wajib diperhatikan. “Mengurangi nilai gizi tidak. Tapi yang dikhawatirkan plastiknya bukan yang khusus tahan panas tinggi dan bisa untuk memasak, sehingga ada mikropartikelnya yang luntur ke makanan,” urai Victoria, seperti dikutip dari Suara.com, Jumat (21/5/2020). 

Dijelaskan Victoria, risiko mikropartikel plastik yang masuk ke makanan ini cukup beragam. Dalam tahap rendah, pengaruhnya mungkin tidak akan terasa oleh tubuh. Namun dalam tahap tinggi, kontaminasi plastik bisa menyebabkan bahaya dan meningkatkan risiko berbagai macam penyakit. “Ya seperti logam berat saja, kalau bertumpuk di dalam tubuh bisa menyebabkan penyakit,” papar ahli gizi dan nutrisi lulusan University of Sydney, Australia ini. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dalam pengumumannya mengatakan penggunaan plastik untuk memasak lontong dibolehkan, asalkan plastik yang digunakan memiliki daya tahan panas yang tinggi.

Pada umumnya plastik yang tersedia di pasaran terbuat dari bahan baku Low Density Polyethylene (LDPE), Linear Low Density Polyethylene (LLDPE), High Density Polyethylene (HDPE), Polypropylene (PP), dan Oriented Poly Propylene (OPP). Masing-masing jenis plastik tersebut memiliki sifat yang berbeda-beda, seperti titik leleh, kelenturan, kejernihan, ketahanan terhadap suhu, dan lain-lain. Berdasarkan sifat tersebut, terdapat beberapa jenis plastik yang titik leleh dan titik melunak (softening point) tinggi (di atas 100°C), yaitu plastik jenis LLDPE, HDPE, PP, dan OPP. Dengan demikian, plastik jenis tersebut relatif aman jika digunakan pada suhu tinggi untuk memasak, termasuk untuk digunakan dalam pembuatan lontong.

Sementara, untuk kantong plastik LDPE memiliki titik melunak yang rendah, yaitu pada suhu 83 – 98 derajat celsius, sehingga disarankan hanya digunakan untuk penyimpanan atau proses pemasakan di bawah suhu tersebut. Meski demikian, jenis plastik ini dapat digunakan untuk penyimpanan beku hingga suhu -50°C, namun tidak sesuai untuk bahan pangan berlemak. Berbagai jenis plastik pada dasarnya bersifat inert (tidak mudah bereaksi) dan tidak menimbulkan bahaya terhadap kesehatan.  Namun, adanya bahan-bahan tambahan (additive) seperti pelicin, antioksidan, pewarna, dan sebagainya dalam proses pembuatan plastik, berisiko terhadap kesehatan. Sangat sulit membedakan jenis plastik secara kasat mata. Untuk itu, BPOM menyarankan agar produsen lontong mengurangi penggunaan plastik, jika tidak yakin atas bahan baku yang digunakan.

Panduan Takbiran Idulfitri saat Covid-19

Jakarta – Membaca kalimat takbir pada malam terakhir bulan Ramadan merupakan ibadah yang disunahkan bagi umat Islam. Hari-hari biasa pada tahun-tahun sebelumnya, takbiran biasa dilakukan dengan berkeliling di kampung atau kawasan tertentu.

Saat takbiran, orang biasanya berkumpul untuk melakukan takbir bersama. Bisa di masjid-masjid, musala atau titik-titik lokasi tertentu. Sebagian yang mengikuti malam takbiran kadang berjalan kaki sambil mengumandangkan kalimat takbir dengan suara keras, ada pula yang disertai iringan tetabuhan.

Namun begitu pandemi virus corona tak memungkinkan orang berkumpul seperti layaknya lebaran sebelum-sebelumnya. Untuk sementara orang dilarang berkerumun, dibatasi aktivitasnya dan diminta tetap berada di rumah demi mengerem penyebaran virus penyebab Covid-19.

Ganjar Ingatkan Tiga Kepala Daerah Tidak Gelar Salat Idul Fitri

Semarang – Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo menyesalkan keputusan Bupati Wali Kota di wilayahnya yang memperbolehkan warganya menggelar Salat Id berjemaah di masjid atau lapangan. Beberapa Bupati/Wali Kota yang sudah memperbolehkan itu misalnya Bupati Karanganyar, Wali Kota Tegal dan Bupati Kudus.

“Jadi ada syarat untuk melakukan itu harus ketat. Seperti dikendalikan di daerahnya yang tidak ada kasus covid-19, yang jadi problem kalau ada orang tanpa gejala masuk dalam kegiatan itu, kan sulit ngontrolnya,” kata Ganjar, Rabu (21/5).

Sesuai anjuran pemerintah, pelaksanaan Salat Id tahun ini tidak dianjurkan dilaksanakan berjemaah di masjid atau lapangan, melainkan di rumah masing-masing. Dia mengungkapkan, konsolidasi nasional harus dilakukan agar seluruh keputusannya bisa sama.

“Saya menyarankan kepada Bupati/Wali Kota, mari kita ikuti ketentuan dari pemerintah, dari Kementerian Agama atau Majelis Ulama Indonesia. Saya sarankan, mari kita ikuti aturan untuk melaksanakan shalat Idul Fitri di rumah masing-masing,” ujarnya.

Apalagi, banyak orang saat ini yang masih nekat mudik dari daerah zona merah. Kalau Salat Id diizinkan, bukan tidak mungkin akan terjadi penularan.

“Meskipun jarak sudah diatur, tapi tanpa sadar orang bersalaman, berdekatan. Itu ada potensi yang membahayakan,” imbuhnya.

Dia juga sudah melakukan komunikasi dengan para Bupati/Wali Kota yang memperbolehkan pelaksanaan Salat Id di masjid. Tujuannya agar keputusan itu bisa ditinjau kembali.

“Sudah komunikasi dengan Bupati Karanganyar, tapi belum ada jawaban. Sampai sekarang, saya coba koordinasi terus, dan dari Kemenag akan menghampiri untuk diajak bicara. Kalau Kota Tegal, saat saya konfirmasi Wali Kotanya bilang tidak begitu, dia meralat pernyataannya. Untuk Kabupaten Kudus, belum ada laporan soal ini. Saya menyarankan kepada semuanya, mari kita ikuti aturan untuk Salat Id di rumah saja,” ungkap politikus PDIP itu.

MUI Jateng juga sudah memberikan petunjuk tentang tata cara Salat Id di rumah. Tata cara disiapkan, naskah khotbah disiapkan lebih singkat namun tidak mengurangi syarat rukun pelaksanaan ibadah itu.

“Kepala keluarga yang jadi imam dan khotib, bisa bapak atau putra yang sudah dewasa. Khotbahnya juga sudah disiapkan lebih singkat. Kalau itu bisa dilakukan, itu bisa mencegah,” tutupnya. (Merdeka)

Kenaikan Isa Almasih, Menag Ingatkan Ibadah di Rumah

Jakarta – Menteri Agama (Menag) Fachrul Razi mengingatkan umat Kristiani untuk beribadah di rumah selama pandemi virus corona (Covid-19), termasuk dalam peringatan Hari Kenaikan Isa Almasih.

Fachrul menyampaikan kondisi saat ini masih menggambarkan tingkat penularan Covid-19 yang tinggi. Sehingga kegiatan keagamaan yang menimbulkan kerumunan dinilai berisiko.

“Mari berupaya dan berdoa bagi kehidupan yang rukun dan damai, bebas dari Covid-19 dan untuk sementara waktu beribadah di rumah saja,” kata Menag dalam keterangan pers di situs kemenag.go.id, Kamis (21/5).

Kemenag telah menggaungkan pesan itu kepada umat agama lainnya sejak pandemi. Imbauan itu tercatat disampaikan pada Hari Suci Nyepi untuk umat Hindu, perayaan Waisak oleh umat Buddha, dan rangkaian ibadah Ramadan serta Salat Idulfitri bagi umat Islam.

Fachrul menuturkan Kenaikan Isa Almasih dimaknasi sebagai sebagai pemberi kepastian akan kekekalan hidup dan persekutuan dengan Tuhan. Ia mengajak umat Kristiani untuk menerapkan nilai-nilqi kebaikam itu dalam kondisi pandemi.

“Saya mengajak umat Kristiani untuk terus berempati pada kehidupan sesama, khususnya kepada saudara-saudara kita yang terkena dampak pandemi Covid-19,” ucapnya.

Sebelumnya, Menag Fachrul Razi beberapa kali mengimbau umat beragama untuk menjalankan ibadah di rumah masing-masing. Salah satu yang menjadi perbincangan terkait Salat Idulfitri.

Fachrul meminta masyarakat menaati PSBB yang diatur dalam UU Kekarantinaan Kesehatan. Sehingga ia menyarankan umat Islam yang akan menyambut hari raya untuk menggelar Salat Idulfitri di rumah masing-masing untuk mencegah penularan corona.

“BIN membeirkan prediksi kalau Salat Id di luar ratusan atau ribuan orang akan melakukan pelonjakan angka Covid-19 signifikan,” kata Fachrul usai Rapat Terbatas di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (19/5). (sumber : CNN Indonesia)

Mau Tunaikan Zakat? Bisa Dirumah Saja

Demak – Kamis (21/5), Sobat Mindukcapil Demak masih bingung gimana harus tunaikan zakat karena sedang #DiRumahAja? Ga perlu khawatir Sob, zakat maal dan zakat fitrah bisa kamu tunaikan lebih mudah dan nyaman di @baznasindonesia .

Kamu bisa pilih metode pembayaran yang diinginkan baik melalui online payment maupun transfer bank. Bukti Setor Zakat akan secara otomatis dikirimkan ke email kamu. Yuk segera tunaikan zakat maal dan zakat fitrah melalui link berikut Sob.
? ZAKAT : baznas.go.id/bayarzakat
? ZAKAT FITRAH : baznas.go.id/zakatfitrah

Informasi lebih lanjut bisa hubungin Contact Center BAZNAS.
WhatsApp: 087877373555
atau
Email: layananmuzaki@baznas.go.id

Kembali Sekolah Tahun Ajaran Baru, Mendikbud Nadiem: Itu Tidak Benar

Jakarta – Jelang tahun ajaran baru, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan ( Mendikbud) Nadiem Makarim menegaskan keputusan pembukaan kembali sekolah akan didasarkan pada pertimbangan Gugus Tugas Percepatan Penanganan. Pernyataan ini disampaikan Mendikbud dalam Rapat Kerja secara telekonferensi dengan Komisi X Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia ( DPR RI), di Jakarta, Rabu (20/5/2020). “Harus diketahui bahwa Kemendikbud sudah siap dengan semua skenario. Kami sudah ada berbagai macam. Tapi tentunya keputusan itu ada di dalam Gugus Tugas, bukan Kemendikbud sendiri,” ujar Nadiem menegaskan. Dikutip dari rilis resmi Kemendikbud, Mendikbud Nadiem menyampaikan, “Jadi, kami yang akan mengeksekusi dan mengoordinasikan.” 

Nadiem menjelaskan ada banyak faktor menjadi pertimbangan pembukaan kembali sekolah pascakebijakan belajar dari rumah sebagai bagian dari PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) guna menahan laju perluasan pandemi Covid-19.

“Tapi keputusan kapan, dengan format apa, dan seperti apa, karena ini melibatkan faktor kesehatan, bukan hanya pendidikan, itu masih di Gugus Tugas,” tambahnya. Terkait adanya berbagai kabar beredar di masyarakat bahwa Kemendikbud akan membuka sekolah pada awal tahun ajaran baru di bulan Juli secara tegas disampaikan Mendikbud Nadiem tidak benar. “Kami tidak pernah mengeluarkan pernyataan kepastian, karena memang keputusannya bukan di kami. Jadi mohon stakeholders atau media yang menyebut itu, itu tidak benar,” tegas Nadiem. Usai rapat kerja Mendikbud menambahkan bahwa di banyak negara, awal tahun ajaran baru relatif tetap. Adapun demikian, penyesuaian metode belajar disesuaikan dengan kondisi dan status kesehatan masyarakat di masing-masing wilayah. “Kemendikbud menilai saat ini tidak diperlukan adanya perubahan tahun ajaran maupun tahun akademik. Tetapi metode belajarnya apakah belajar dari rumah atau di sekolah akan berdasarkan pertimbangan gugus tugas,” tutur Mendikbud.(sumber : Kompas)

Dinamika Hidup New Normal di Indonesia Dipengaruhi Kedisiplinan Masyarakat

Jakarta – Dikutip dari laman Merdeka.com,

Ketua Umum Masyarakat Hukum Kesehatan Indonesia (MHKI) Mahesa Paranadipa menggambarkan bahwa the new normal atau pola hidup baru masyarakat pasti akan terjadi dan mengubah habit (kebiasaan hidup) masyarakat.

“The New Normal mau enggak mau akan terjadi di Indonesia. Tapi pola dan dinamikanya akan sangat dipengaruhi pada kedisiplinan setiap orang,” kata Mahesa saat dihubungi merdeka.com, Rabu (20/5).

Kemudian, dia menyebutkan bahwa the new normal akan merujuk pada perubahan habit (kebiasaan hidup) dalam situasi wabah Covid-19 saat ini. Seperti pemeriksaan suhu, menjaga jarak, kerja dan belajar dari rumah (WFH), menonton konser/hiburan secara online sampai belanja online.

“The new normal sudah pasti akan berubah dan akan memunculkan habit baru, terutama soal penggunaan masker dan menjaga jarak,” ujarnya.

“Jika pada sektor industri, ketika new normal maka hal-hal yang harus dipersiapkan adalah penyediaan thermal scanning yang lebih efisien pengawasannya. Pemasangan pintu-pintu harus dirancang untuk meminimalisir sentuhan, penyemprotan disinfektan di tempat umum harus lebih sering, dan mengedepankan higienis,” tambahnya.

Sedangkan, untuk di rumah sakit habit the new normal sudah lama diterapkan semenjak Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menerbitkan pedoman Covid-19.

“Habit itu sudah lama berjalan kalau di rumah sakit, seperti penunggu pasien dibatasi, ruang perawatan dipisah antara pasien suspek non Covid, pasien suspek Covid dan positif Covid, dan tidak ada lagi kunjungan pasien ke rumah sakit,” tuturnya.

Oleh sebab itu, Mahesa meminta kepada pemerintah untuk lebih memberikan langkah-langkah kebijakan yang jelas terkait the new normal tersebut. Tujuannya adalah untuk meminimalisir dinamika kebijakan yang akan mempengaruhi persepsi publik.

“Dinamika kebijakan akan mempengaruhi persepsi publik. Persepsi publik yang masif akan mempengaruhi kepercayaan kepada pemerintah. Hal ini berbahaya di tengah perjuangan bersama melawan persebaran virus Covid-19,” imbaunya.

Mengenal Tradisi Ramadhan: Ela-Ela

Demak – Kamis (21/5), Malam ela-ela (obor) merupakan sebuah tradisi wajib masyarakat Ternate, Maluku Utara untuk menyambut malam Lailatulqadar. Ela-ela biasanya diawali dengan pembacaan doa di Kedaton Kesultanan Ternate selesai pelaksanaan salat Tarawih di Masjid Kesultanan Ternate.

Kegiatan selanjutnya dalam festival tersebut, pembakaran obor yang dalam bahasa daerah Ternate disebut Ela-ela oleh wakil dari Kesultanan Ternate diikuti seluruh masyarakat dan lintas agama, baik yang ada di lingkungan Kedaton Kesultanan maupun di seluruh wilayah Ternate.

Update Corona di Indonesia 21 Mei: 20.162 Positif, 1.278 Meninggal, 4.838 Sembuh

Jakarta – Kasus virus corona di Indonesia terus mengalami peningkatan. Pemerintah mengumumkan penambahan 973 pasien positif virus corona (SARS-CoV-2) atau pengidap penyakit COVID-19 dari yang sebelumnya berjumlah 19.189 orang.

Sehingga per Kamis (21/5) siang, total pasien positif virus corona di Indonesia mencapai 20.162 orang. Penambahan kasus hari ini melesat sangat tinggi dan mencetak rekor tertinggi sejak pertama kali diumumkan awal Maret lalu.”Hasilnya meningkat 973 orang. Peningkatan ini luar biasa dan inilah yang tertinggi. Peningkatan tertinggi ini terjadi di Jatim khususnya. Jadi totalnya jadi 20.162,” ungkap jubir pemerintah terkait penanganan virus corona, Achmad Yurianto, saat konferensi pers di BNPB, Jakarta.

Dari total pasien positif virus corona itu, Yuri mengungkap ada penambahan 36 pasien yang meninggal, sehingga total pasien positif virus corona yang meninggal mencapai 1.278 orang. Meski demikian, penambahan jumlah pasien dan kasus kematian juga dibarengi dengan kabar baik terkait semakin bertambahnya pasien yang sembuh sebanyak 263 orang. Sehingga saat ini sudah ada 4.838 pasien yang dinyatakan sehat dan diperbolehkan pulang.

Agar penyebaran virus corona tak semakin meluas, masyarakat selalu diingatkan untuk disiplin mengenakan masker kain, menjaga jarak atau physical distancing, rajin mencuci tangan, dan tak keluar rumah selain urusan penting. Presiden Jokowi juga telah melarang mudik atau pulang kampung untuk menekan penyebaran virus corona. Dikhawatirkan gelombang mudik ini memicu meluasnya penularan. (Sumber : Kumparan)

Penutupan Jalan Menuju Arah Demak Kota

Demak – Hari ini (21/5), telah dilakukan penutupan jalan menuju arah kota Demak oleh personil Dinas Perhubungan Kab. Demak karena dilaksanakanya pengecatan tempat para pedagang pagi di Pasar Bintoro Demak.

Untuk itu masyarakat Demak yang akan melewati tempat tersebut, diharapkan mengambil jalan alternatif lainnya. (Sumber : Dinhub Kab. Demak).

Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial